Mr.BOB Academia – Pernah dengar celetukan kalau anak pesantren mustahil kuliah ke Eropa atau jalurnya cuma ke Timur Tengah? Anggapan itu terpatahkan oleh Thoriq Azzam Khan, atau Bro Thoriq. Santri ini membuktikan diri bisa menembus kampus top dunia, University of Edinburgh di Skotlandia, lewat beasiswa LPDP-BIB Kemenag.
Keberhasilannya jelas bukan sulap semalam. Kamu perlu tahu, Bro Thoriq sempat gagal tes wawancara, panik berbahasa Inggris, sampai harus merombak total cara belajarnya. Yuk, simak ikhtiar nyata Bro Thoriq meraih beasiswa impiannya!
Profil Singkat Bro Thoriq Azzam Khan: Dari Bilik Pesantren Menatap Dunia
Thoriq Azzam Khan merupakan alumni Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda yang kental dengan tradisi fikih sosial. Lingkungan santri melatihnya berpikir kritis dan menguasai teks keislaman klasik secara mendalam. Namun, kamu perlu tahu bahwa keseharian pondok yang lekat dengan bahasa Arab dan daerah sempat membuat penguasaan bahasa Inggris jadi tantangan tersendiri bagi Thoriq.
Baca juga : 8 Kesalahan Fatal di IELTS Speaking yang Wajib Kamu Hindari demi Band 7+
Pilihan Studi: Mengapa Memilih University of Edinburgh Dibandingkan Timur Tengah?
Banyak orang bertanya mengapa Bro Thoriq tidak memilih kuliah ke Timur Tengah seperti santri pada umumnya. Bagi Bro Thoriq, ini bukan soal mencari kampus terbaik, melainkan mana yang paling cocok dengan tujuan risetnya.
“Buatku, bukan soal kampus mana yang lebih bagus, tapi mana yang paling sesuai dengan tujuan riset ku. Dengan latar belakang fiqih dan ushul fikih, aku memilih Edinburgh karena pendekatannya lebih relevan untuk riset yang ingin aku kembangkan dan misi yang aku bawa dari pesantren.”
Ia memilih program MSc Islamic & Middle Eastern Studies di University of Edinburgh karena pendekatannya sangat kritis. Lewat jalur ini, kamu diajak melihat cara Bro Thoriq membawa keilmuan ushul fiqih pesantren agar bisa menjawab tantangan dunia modern di panggung internasional.
Perjalanan & Kegagalan di Percobaan Pertama: Tersandung di Garis Wawancara
Langkah Bro Thoriq tidak langsung mulus di awal karena ia baru lolos beasiswa LPDP-BIB di percobaan kedua. Dari kegagalan pertamanya, kamu bisa belajar bahwa jatuh adalah cara terbaik mematangkan persiapan diri.
Lolos Seleksi Substansi Namun Terjegal di Wawancara Berbahasa Inggris
Di percobaan pertama, Thoriq sebenarnya sudah lolos seleksi substansi. Namun, ia panik karena baru tahu wawancaranya memakai bahasa Inggris saat tes dimulai. Dengan minimnya persiapan wawancara berbahasa inggris membuatnya sulit menjelaskan ide risetnya. Sehingga Bro Thoriq belum berhasil lolos pada kesempatan tersebut.
Pelajaran Mahal: Mengapa Modal Tekad dan Niat Saja Masih Kurang
Pengalaman pahit tersebut memberikan kesadaran penting mengenai hakikat persiapan kompetisi beasiswa. Thoriq menegaskan refleksi pribadinya:
“Dari kegagalan itu, aku sadar: Punya impian yang besar saja belum cukup. Kita juga perlu tahu apa yang harus dipersiapkan.”
Memiliki niat baik dan tekad kuat adalah fondasi awal, namun persiapan teknis terhadap seluruh instrumen seleksi merupakan syarat mutlak yang menentukan keberhasilan akhir.
Baca juga : Mau Skor 7.0+? Ini 11 Rekomendasi Buku IELTS Terbaik untuk Pemula
Mengubah Pola Belajar: Berhenti Mempelajari Semuanya Sekaligus
Setelah menghadapi kegagalan di periode pertama, Bro Thoriq menyadari kalau dia menggunakan metode belajar yang lama. Pada awalnya, ia berusaha mempelajari seluruh cakupan materi seleksi dalam satu waktu secara bersamaan.
Jebakan Overwhelmed: Bahaya Mempelajari Segala Hal Tanpa Arah
Awalnya Bro Thoriq mempelajari Tes Bakat Skolastik (TBS), esai, wawancara, dan bahasa Inggris secara serentak sampai kewalahan. Sadar caranya keliru, ia mengubah pola pikirnya. Jika kamu masih menggunakan metode belajar tersebut, sebaiknya berhenti mempelajari semuanya sekaligus, lalu tiru cara Bro Thoriq yang fokus mencari tahu:
“Kompetensi apa yang sebenarnya sedang dinilai penguji?”
Pergeseran Pola Pikir: Dari “Apa Lagi?” Menjadi “Kompetensi Apa yang Dinilai?”
Dengan memetakan kompetensi inti yang dinilai oleh tim seleksi beasiswa, Bro Thoriq menyusun pendekatan persiapan yang lebih terarah dan terstruktur:
Membedah Esensi Tes Bakat Skolastik (TBS) dan Esai Ilmiah
- Tes Bakat Skolastik (TBS): Ujian ini menguji logika berpikir cepat dan kemampuan kamu dalam memecahkan pola masalah di bawah tekanan waktu.
- Esai Ilmiah: Esai menguji keahlian kamu menyusun ide, menyajikan argumen terstruktur, dan merancang kontribusi nyata lewat rencana studi. sistematis.
Membongkar Ekspektasi Wawancara dan Komunikasi Bahasa Inggris
- Wawancara Beasiswa: Sesi ini menguji keteguhan motivasimu, kedewasaan sikap, serta seberapa jelas arah dan tujuan rencana kuliahmu nanti.
- Bahasa Inggris: Bahasa Inggris membantu kamu menyampaikan argumen dan ide riset secara jelas agar tidak ada salah paham.
Pemahaman terhadap esensi tiap tahap seleksi ini membantu Bro Thoriq menata prioritas dan mengatur ritme belajarnya dengan jauh lebih tenang dan terarah.
Membangun Fondasi Bahasa Inggris Intensif: Kawah Candradimuka di Kampung Inggris
Menyadari keterbatasan komunikasi bahasa Inggris yang menjadi faktor kegagalannya diseleksi sebelumnya, Bro Thoriq memprioritaskan peningkatan keterampilan bahasa asing sebagai kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.
Baca juga : Alumni Take Over: 4 Strategi IELTS Reading Bro Fachri Tembus Skor Sempurna 9.0
Mengubah Paradigma: Bahasa Inggris Bukan Sekadar Syarat Administrasi dan Skor IELTS
Bagi Bro Thoriq, bahasa Inggris bukan sekadar sertifikat administratif. Kamu harus melihatnya sebagai kunci utama menyerap ilmu, berdiskusi ilmiah, dan menyampaikan ide di panggung kampus bergengsi dunia secara percaya diri.
Jadwal Ekstrem 1 Bulan: Dari Tata Bahasa Fajar hingga Praktik Bicara Malam
Untuk mengejar ketertinggalan, Bro Thoriq belajar sebulan penuh di Pare lewat jadwal terencana yang bisa kamu tiru.
- Pagi: Mengikuti sesi pembelajaran tata bahasa (Grammar).
- Siang: Mempelajari materi Pre-IELTS di Mr.BOB Academia.
- Sore: Melanjutkan pemantapan tata bahasa lanjutan (Grammar).
- Malam: Ditutup dengan latihan percakapan aktif di kelas Speaking.
Jika kamu juga mengincar jadwal belajar yang intensif seperti Bro Thoriq maka kamu cocok bergabung di program TOEFL atau IELTS di Mr.BOB Academia. Yuk, konsultasikan rencana belajarmu dengan mengklik poster dibawah ini.
Strategi Belajar Terarah & Pemanfaatan AI sebagai Partner Studi
Sekembalinya dari program bahasa, Bro Thoriq menerapkan strategi belajar mandiri yang efisien dan berkelanjutan tanpa harus selalu bergantung pada bimbingan berbayar.
Metode Target Breakdown: Memecah Hambatan Menjadi Target Mingguan
Bro Thoriq menerapkan metode pembagian target berskala kecil secara berkala (target breakdown). Alih-alih mempelajari semua topik secara acak, Bro Thoriq mengalokasikan fokusnya menjadi beberapa tahap:
- Minggu awal: Fokus pada latihan penalaran verbal Tes Bakat Skolastik (TBS).
- Minggu berikutnya: Beralih ke pengasahan kemampuan penalaran numerik TBS.
- Minggu lanjutan: Pematangan esai, penulisan personal statement, serta simulasi wawancara secara bertahap.
Pendekatan ini memungkinkannya mengukur progres persiapan secara konkret setiap pekannya.
Baca juga : 11 Aplikasi Belajar IELTS Gratis untuk Raih Skor IELTS 7.0+
Eksplorasi Kecerdasan Buatan: Mengubah AI Menjadi Tutor Pribadi dan Pewawancara
Bro Thoriq memanfaatkan AI bukan untuk cari contekan, melainkan sebagai teman belajar interaktif. Kamu bisa menirunya dengan meminta AI membuat modul khusus, simulasi soal latihan, hingga membedah kesalahan jawaban. Bro Thoriq bahkan melatih kemampuan bicaranya lewat simulasi wawancara bersama AI agar kamu makin percaya diri menghadapi penguji beasiswa sungguhan.
Motivasi Dari Bro Thoriq untuk Pemburu Beasiswa Indonesia
Menghargai Apa yang Ada di Tangan Hari Ini
Menghadapi proses seleksi beasiswa yang menantang menuntut fokus pada tindakan nyata saat ini dibanding sekadar mengkhawatirkan target akhir yang tampak berat. Pesan yang disampaikan oleh Bro Thoriq menjadi pengingat penting:
“Mungkin hari ini kamu merasa impianmu masih sangat jauh. Tapi jangan hanya melihat jauhnya tujuan, lihat juga apa yang sedang ada di tanganmu hari ini. Kerjakan apa pun yang sedang kamu jalani dengan penuh dedikasi dan sebaik mungkin. Karena setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak pernah benar-benar kecil.”
Penutup: Merawat Harapan dan Mengikis Jarak Menuju Kampus Impian
Perjalanan Bro Thoriq Azzam Khan memberikan gambaran berharga bahwa latar belakang pendidikan pesantren tidak menghalangi untuk melanjutkan pendidikan ke universitas bergengsi dunia. Dengan dibarengi strategi persiapan yang tepat, kesiapan mental, dan kemauan memperbaiki kelemahan diri.
Jadi, tunggu apa lagi? Biar rencana kuliah, beasiswa, dan karir impianmu makin matang, jangan lupa ikuti update terbarunya di Instagram, TikTok, dan YouTube Mr.BOB Academia, ya! Nah, buat kamu yang lagi pusing atau overthinking soal skor TOEFL/IELTS yang belum sesuai target, jangan nyerah dulu. Yuk chat kita di WhatsApp. Good luck, future global scholars!






Leave a Comment